Kutipan Stoik tentang waktu dan hidup di masa kini
Surat pertama Seneca kepada Lucilius mengajukan argumen yang tidak menua dalam dua ribu tahun: kita menjaga uang kita dengan hati-hati, tetapi memberikan waktu kita kepada siapa saja yang memintanya. Kaum Stoa memandang waktu sebagai satu-satunya milik yang sejati, dan saat ini sebagai satu-satunya bagian darinya yang benar-benar kita genggam. Masa lalu sudah terpakai dan masa depan bukan milik kita; yang tersisa adalah jam ini, yang bisa dijalani dengan penuh perhatian atau hilang begitu saja. Kutipan-kutipan ini tentang menyadari hal itu, dan tentang pemborosan khas ketika kita menunda hidup sampai keadaan membaik.
22 kutipan—Marcus Aurelius, Seneca, Epiktetos
Sedang melewati masa sulit? Bacaan Stoik untuk cemas, duka, dan malam tanpa tidur →
Taruh bacaan seperti ini di layar kuncimu, gratis untuk iPhone dan Android.
Dua hal yang perlu kamu ingat. Segala sesuatu sejak keabadian berulang dalam bentuk yang serupa—seratus tahun tidak menyaksikan hal baru. Dan yang berumur paling panjang maupun yang paling cepat mati kehilangan hal yang persis sama.
Kita merancang pelayaran panjang, kepulangan yang tertunda, kampanye perang, pendakian perlahan menuju jabatan—sementara maut berdiri diam di samping kita. Karena kita membayangkannya hanya menimpa tetangga, kehilangan sehari-hari mengepung kita nyaris tanpa terlihat.
Aku melakukan satu-satunya hal yang bisa kulakukan: tidak tenggelam dalam ketakutan, tidak menjerit, tidak menyalahkan Tuhan. Apa yang telah tercipta pasti akan binasa. Aku manusia, bagian dari keseluruhan, seperti satu jam adalah bagian dari hari.
Segala yang termasuk tubuh adalah arus. Segala yang termasuk jiwa, mimpi dan uap. Hidup adalah peperangan dan persinggahan di negeri asing. Sesudah kemasyhuran, kelupaan. Apa yang dapat menuntun seseorang? Hanya satu: filsafat.
Tidak ada yang lebih menyedihkan daripada mencemaskan apa yang akan dibawa masa depan. Pikiran kita yang gelisah berdebar oleh ketakutan yang tak dapat dijelaskan. Bagaimana kita menghindarinya? Bila hidup kita tidak menjangkau ke depan, bila ia tertarik kembali ke dalam dirinya.
Jagalah apa yang menjadi milikmu. Jangan mengklaim milik orang lain. Gunakan apa yang diberikan. Ketika sesuatu diambil darimu, lepaskan dengan rela dan bersyukurlah atas waktu ketika kamu memilikinya.
Apa pun aku ini—sedikit daging, napas, dan nalar penuntun. Buang buku-bukumu. Berhentilah mengalihkan perhatianmu. Seolah kamu sedang sekarat, pandanglah rendah daging: darah dan tulang, anyaman saraf dan pembuluh.
Tatalah pikiranmu seolah kamu telah tiba di penghujung terakhir. Jangan menunda apa pun. Seimbangkan neraca hidup setiap hari. Cacat terbesar dalam hidup adalah bahwa ia selalu belum sempurna, dan sebagian darinya selalu ditunda.
Setiap kebiasaan dipelihara oleh tindakan yang sesuai dengannya. Berjalan dengan berjalan, berlari dengan berlari. Ingin pandai membaca? Maka membacalah. Berhentilah selama tiga puluh hari, lalu lihat apa yang terjadi.
Kini kamu harus melihat keseluruhan mana yang menjadi tempatmu, dan bahwa batas waktu telah ditetapkan bagimu. Jika tidak kamu gunakan untuk menyibak awan dari pikiranmu, waktu itu akan berlalu, dan tak akan pernah kembali.
Kegelisahan apa yang dapat dibawa oleh Fortuna dengan suasana hatinya yang berubah-ubah, jika kamu berdiri teguh menghadapi apa yang tidak pasti? Maka mulailah hidup sekarang juga, Lucilius yang terkasih—dan hitunglah setiap hari yang baru sebagai satu kehidupan tersendiri.
Latihlah dirimu setiap hari. Setiap pagi, periksalah setiap orang dan setiap hal. Terapkan kaidahnya. Apakah ini berada dalam wilayah kehendak atau di luarnya? Di luarnya. Singkirkan.
Jika kamu mengerjakan apa yang ada di hadapanmu, mengikuti nalar dengan sungguh-sungguh, penuh semangat, dan tenang—menjaga batinmu tetap murni seolah kamu harus mengembalikannya sekarang—tanpa mengharapkan apa pun, tanpa takut pada apa pun, mengucapkan setiap kata dengan keyakinan: kamu akan hidup dengan baik.
Buanglah rasa lapar akan hidup ini. Kapan penderitaanmu datang tidak banyak berarti—cepat atau lambat kamu pasti menderita. Yang penting bukanlah panjang hidupmu, melainkan keluhurannya.
Seperti Zeus berdiam bersama dirinya sendiri dan tenang, memikirkan pikiran yang layak baginya, demikian pula kita patut bercakap dengan diri sendiri, tidak merasa kekurangan orang lain, dan mengamati bagaimana segala sesuatu memengaruhi kita sekarang.
Apa pun yang selaras denganmu, selaras pula denganku. Tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat bagiku. Segala yang dibawa musim-musimmu adalah buah bagiku. Darimu segala sesuatu berasal, dan kepadamu segala sesuatu kembali.
Setiap hari, setiap jam, menyingkapkan betapa remehnya kita—bukti baru bahwa kerapuhan telah luput dari ingatan kita. Sementara kita merancang untuk zaman-zaman yang akan datang, saat-saat itu memaksa kita menoleh ke belakang, tempat Maut menanti.
Ketika kamu mencium anakmu, saudaramu, atau sahabatmu, jangan biarkan kesan itu lepas kendali; jangan biarkan kesenangan melaju tanpa kekang. Tahanlah, kekanglah—seperti orang-orang yang berdiri di belakang mereka yang diarak dalam pawai kemenangan, mengingatkan bahwa mereka fana.
Semua yang kamu lihat ini sedang berubah saat ini juga dan sebentar lagi tidak akan ada lagi. Ingatlah berapa banyak perubahan semacam itu yang telah kamu saksikan. Seluruh keberadaan adalah perubahan. Hidup adalah pendapat.
“Cangkokkanlah kini pohon pirmu, Meliboeus; tanamlah pokok anggurmu berbaris-baris.” Namun betapa bodohnya menata hidup seolah kita memegang hak atas hari esok. Betapa gilanya menyusun rencana jauh menghadapi masa depan yang tak dimiliki siapa pun.
Ingatkan dirimu bahwa apa yang kamu cintai itu fana, dan sama sekali bukan milikmu. Ia diberikan untuk saat ini, bukan untuk selamanya, melainkan seperti buah ara pada musim yang telah ditentukan.
Pikirkan betapa banyak tabib yang telah mati setelah mengernyitkan dahi di atas orang sakit, betapa banyak filsuf setelah tak henti-hentinya membicarakan kematian, betapa banyak pahlawan setelah membunuh ribuan orang, betapa banyak tiran setelah menjalankan kuasa seolah mereka abadi.
Latihan lima menit
Taruh kutipan seperti ini di layar kuncimu—gratis
Buku
Edisi bahasa Indonesia buku-buku Dawnstone segera hadir. Begitu siap, kamu akan menemukannya di sini.
Mulailah dengan tujuh pagi.
Satu bacaan Stoik setiap hari selama seminggu, dalam urutan yang disusun dengan sengaja, dengan satu hal untuk dicoba setiap hari. Gratis. Setelah itu, kamu yang memutuskan apakah ingin lebih.
Tujuh email, lalu tidak ada lagi kecuali kamu memintanya. Tanpa pelacakan, tanpa berbagi data—selamanya.
